Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Cegah Kepunahan, Kementerian KKP Kembangkan Riset Budidaya Teripang Pasir

Senin, 01 Februari 2021, Februari 01, 2021 WIB Last Updated 2021-01-31T17:57:24Z
Wasantara.online @ Jakarta - Untuk mencegah kepunahan dan melestarikan biota laut, teripang pasir maka pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Badan Riset  dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), punya solusinya.

Hal ini disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan (Menteri KKP) Sakti Wahyu Trenggono usai kunjungan kerjanya ke Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP) Gondol-Bali dalam siaran Persnya kepada wartawan, Minggu (31/1/2021).

Dikatakan Menteri KKP bahwa memang teripang pasir, sebuah nama yang terdengar agak asing di telinga masyarakat awam. Pamornya tidak “sebeken” komoditas perikanan lain, seperti ikan lele, nila. Namun siapa sangka ternyata komoditas ini memiliki kandungan gizi dan nilai ekonomis yang tinggi. 

Sayangnya, akibat mengandalkan penangkapan di alam, teripang pasir bisa terancam punah. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), punya solusinya, sebut Menteri KKP.

Menurut Sakti Wahyu Trenggono bahwa
Teripang merupakan biota laut yang termasuk ke dalam filum Echinodermata. Dikenal juga dengan istilah timun laut, sea cucumber, dan bêche-de-mer. Teripang telah lama dimanfaatkan masyarakat Asia sebagai makanan dan obat tradisional karena memiliki kadar protein dengan kandungan lemak rendah, kandungan vitamin E berperan sebagai antioksidan, serta mengandung mineral yang tinggi, terutama kalsium dan magnesium. 

Teripang pasir mengandung omega-3, omega-6, omega-9, dan 16 jenis asam amino. Karena itu, usaha perbenihan dan budidaya teripang pasir perlu dilakukan sebagai salah satu komoditas di bidang akuakultur, ujarnya.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, berbagai bahan bioaktif dari teripang semakin banyak diketahui, baik sebagai sumber senyawa bioaktif farmakologis maupun dalam bidang kosmetika.

Sampai saat ini, teripang yang diperdagangkan masih mengandalkan hasil tangkapan alam sedangkan hasil budidaya masih sangat terbatas. 

Dalam dua dekade terakhir, kesulitan memperoleh teripang dari alam juga terjadi di Indonesia akibat penangkapan teripang yang berlebihan. Cepat atau lambat kepunahan spesies ini semakin terbuka, jika usaha budidaya tidak segera dilakukan.

Mata rantai utama dalam sistem produksi teripang adalah penyediaan benih. Melalui serangkaian penelitian, Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP) Gondol-Bali, salah satu Unit Pelaksana Teknis BRSDM, telah berhasil mengembangkan teknologi perbenihan teripang pasir (Holothuria scabra) di hatcheri. Selanjutnya benih tersebut dibudidayakan di bak beton, di tambak dengan menggunakan hapa, dan di laut dengan menggunakan kurung tancap.

Keberhasilan BBRBLPP dalam melakukan budidaya teripang pasir membuka peluang perkembangan usaha budidaya teripang di masyarakat terlebih bahwa teripang pasir hasil budidaya terbukti memiliki kandungan nutrisi yang sama dengan yang berasal dari alam.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono ke BBRBLPP, kunjungan kerja pekan lalu, lokasi penelitian budidaya teripang pasir ini merupakan salah satu tempat yang mendapat perhatiannya. 

Menteri KKP berharap, hasil penelitian dari balai riset, termasuk teripang pasir, dapat diimplementasikan di masyarakat untuk menggerakan roda perekonomian guna kesejahteraan masyarakat.

Kepala BRSDM Sjarief Widjaja mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti arahan Menteri tersebut. Sjarief berencana akan membuat instalasi-instalasi kecil di balai riset. Ia juga sudah berkomunikasi dengan Gubernur Bali I Wayan Koster dan selanjutnya Gubernur akan menetapkan sentra-sentra perikanan, termasuk teripang pasir, di Bali.

Sementara itu, teknologi pembenihan dan budidaya teripang pasir ini juga dibahas khusus pada kegiatan Sharing Session BRSDM, Rabu (27/1). 

Bertindak sebagai narasumbernya adalah peneliti utama BBRBLPP Sari Budi Moria Sembiring. Sari memaparkan data Badan Pusat Statistik (2019), bahwa volume ekspor produk teripang Indonesia pada Januari hingga Juli 2019 mencapai 780.803 kg, dengan nilai mencapai US$ 8.762.309. 

Menurut Sari Budi, dengan nilai ekonomi dan kebutuhan pasar yang tinggi, khususnya pasar Asia, maka terjadi overfishing, sehingga perlu pengembangan budidaya, sebagaimana dilakukan penelitiannya guna melestarikan biota laut tersebut.

Komentar

Tampilkan

  • Cegah Kepunahan, Kementerian KKP Kembangkan Riset Budidaya Teripang Pasir
  • 0

Terkini