Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Cegah Perundungan, Sekolah Harus Utamakan Pendidikan Karakter Ketimbang Akademiknya

Jumat, 29 September 2023, September 29, 2023 WIB Last Updated 2023-09-28T21:05:46Z
Wasantaraonline.com | Jakarta - Untuk mencegah perundungan atau bullying, maka sekolah atau satuan pendidikan harus mengutamakan pendidikan karakternya, ketimbang hanya berfokus pada nilai dan kurikulum. Sehingga perundungan tidak lagi terjadi pada siswa dengan siswa, atau siswa dengan tenaga pendidik. 
Hal ini disampaikan pakar pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prof Suyanto kepada wartawan saat ditanyain, cara efektif mengantisipasi dan mencegah agar perundungan tidak terjadi lagi. Kamis (28/9/2023). 

Dikatakan Prof Suyanto bahwa sekolah dan orangtua harus bisa membentuk karakter siswa selain mengedepankan aspek kognitif, menyusul fenomena perundungan antar-siswa di lingkungan sekolah.

Menurut dia, pendidikan karakter harus berbasis pada perilaku untuk menciptakan siswa berkualitas ketimbang hanya berfokus pada nilai dan kurikulum. Ia yakin, perundungan yang terjadi di sekolah dan satuan pendidikan sedikit banyak dipengaruhi oleh timpangnya pendidikan karakter dengan pendidikan formal. 

"Pendidikan karakter itu harus berbasis perilaku. Tidak hanya berbasis pengetahuan. Tidak cukup anak itu adalah mempunyai pengetahuan tentang karakter yang biasanya. Memang harus ada moral knowing atau pengetahuan moral, dihayati, lalu dilakukan moral feeling, moral action, seperti itu," Jelas Prof. Suyanto. 

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Guru Besar (MGB) UNY ini menuturkan, pendidikan karakter di berbagai negara maju justru didahulukan moralnya dibanding capaian akademiknya. 

Sebab, penanaman karakter sangat sulit. Mengacu pada beberapa riset, ia menyampaikan, penanaman karakter perlu pembiasaan (habituasi) paling tidak 20 kali. 

"Sedangkan untuk mengikis karakter yang jelek, lebih sulit lagi. Paling tidak ada habituasi 100 kali dengan cara mencoba memberi contoh dan lain-lain," kata dia. 

Adapun untuk mendidik karakter siswa, guru dan orangtua perlu menjadi suri tauladan (role model) yang baik, di tengah maraknya konten buruk di media sosial. 

Ia tidak memungkiri, mudahnya akses media sosial membuat siswa perlu dibimbing untuk membedakan konten yang baik dan buruk. Sebab, bukan tidak mungkin, konten yang diserap siswa dan anak-anak dari media sosial akan menginspirasi perilakunya. 

"Dari konten (buruk) itu anak-anak itu punya imajinasi dan inspirasi yang tidak normal sehingga terjadi perilaku tidak ada empati, tidak care, tidak saling menghargai dengan sesama temannya. 

Oleh karena itu, jika orangtua ingin anaknya baik, harus diawasi dalam arti diarahkan ketika dia memiliki gadget," tutur Suyanto. 

Lebih lanjut ia menjabarkan, mengajarkan perilaku baik bisa dimulai dari hal yang kecil, misalnya, kata dia, mengajari baris-berbaris, membiasakan budaya antre di sekolah, hingga memberikan pelatihan yang berkaitan dengan aspek perilaku. 

Tak hanya itu, membimbing siswa ketika mengalami masalah dan mencari jalan keluar. "Kadang sekolah itu (menganggap) pengembangan karakter enggak kelihatan, nilainya susah, hasilnya tidak seketika jika dibandingkan dengan ilmu fisika, matematika, kimia, whatever. 

Sekolah harus kembali mengajarkan karakter secara terintegrasi," ucap Suyanto. Perundungan banyak terjadi di satuan pendidikan. Perundungan ini melibatkan siswa dengan siswa, atau siswa dengan tenaga pendidik.  (*/kgm) 
Komentar

Tampilkan

  • Cegah Perundungan, Sekolah Harus Utamakan Pendidikan Karakter Ketimbang Akademiknya
  • 0

Terkini